Beranda / Artikel / 12 Tahun Festival Film Purbalingga: Tarung Drajat
Artikel

12 Tahun Festival Film Purbalingga: Tarung Drajat

12_tahun_festival_film_purbalingga_tarung_drajat

Menuliskan kata pengantar untuk Festival Film Purbalingga (FFP) tiap tahun, selalu saja sulit untuk tidak mengevaluasi kinerja festival tiap tahunnya. Memutar ulangan rekaman dan catatan, mencoba untuk konstruktif dalam mengeja masa depan.

Dua tahun lalu, lahir sebuah film dokumenter panjang yang coba mengupas perjalanan FFP beserta CLC Purbalingga selaku lembaga pengampunya. Film ini tak lepas dari impresi betapa heroisnya manusia-manusia CLC Purbalingga dalam menjalankan festival yang tahun ini sudah mencapai edisi ke-12.

Yang hilang dari film tersebut adalah dinamika CLC Purbalingga sebagai sekumpulan manusia yang tak lepas dari konflik. Konsistensi (dan energi) para punggawa CLC Purbalingga bukanlah pemberian Tuhan, namun usaha dan negosiasi para manusianya. Tidak ada heroisme, hanya keinginan untuk melakukan sesuatu selaksana komitmen pada kehidupan. Sebuah kerja kolektif, bukan aksi tunggal perseorangan.

FFP bahkan tidak dikerjakan sendiri oleh CLC Purbalingga, tetapi melibatkan komunitas lain; Sangkanparan (Cilacap) serta Sinema Kedung (Kebumen). Menjadi kultur yang telah terbangun sejak awal.

*

Di edisi ke-12, FFP coba memperkuat program-program yang sudah jalan di tahun-tahun sebelumnya. Percobaan-percobaan baru yang kami anggap layak dikembangkan, dipertajam kembali, dan digali kemungkinan pengembangannya.

Tahun lalu, untuk pertama, kalinya FFP mengadakan lokakarya vloger, bagi anak muda Banyumas Raya yang berminat dan berniat menjadi 'Youtuber'. Tahun ini, lokakarya kami pertajam dengan tambahan perspektif dokumenter. Mimpi kami, anak muda Banyumas Raya yang menjadi vloger bisa melakukan kerja-kerja dokumenter, mengupas hal-hal menarik di sekeliling desa mereka. Mungkin akan ada yang membuat tutorial cara mengangon kerbau.

Lokakarya animasi untuk siswa Sekolah Dasar kami lanjutkan, setelah tahun lalu mendapatkan tanggapan positif dari pihak guru dan siswanya. Arena bermain bagi keduanya. 

Nonton Bersama Tetangga, sebuah program yang mengajak warga sekitar area kota Purbalingga untuk mewakafkan teras rumah untuk menjadi tempat menonton program FFP, tahun ini ditetapkan menjadi pilar baru setelah percobaan pertama di tahun lalu mendulang respons positif.

Dan tentu saja, Kompetisi Film Pendek Pelajar Banyumas Raya sebagai salah satu puncak perayaan. Tahun ini, boleh dibilang kualitas produksi para pelajar semakin mumpuni. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi kami dari melihat karya para pelajar ini.

Akhirul kata, FFP masih menjadi rumah kolektif yang terus bertarung dengan banyak perkara untuk menjaga konsistensinya. Bukan ilusi tentang menjadi heroik.